header-pojok-alfiana

4 Sifat Utama Ibunda Aisyah Ra., Teladani Yuk!

sifat teladan ibunda aisyah
Halo, Teman Perjalananku!

Di sepanjang perjalananku belajar, salah satu materi yang menarik untukku tentang cerita sahabat-sahabat nabi, para muslimah terdahulu.

Aku merasa butuh, Dear. Rasanya kalau membaca dan mempelajari sejarah tuh kita ditarik ke masa lalu dan kebanyakan ceritanya tuh relate dengan yang sekarang dialami. Jadi, merasa ada pengalaman yang sudah terjadi untuk kita jadikan panduan.

Dengan membaca cerita-cerita wanita muslimah terdahulu, memacu diriku pribadi untuk meneladani mereka. Siapa sih yang nggak ingin jadi wanita shalihah? Nah, dengan belajar shirah, kita jadi tahu apa sih yang sebenarnya dilakukan para wanita-wanita shalihah terdahulu, sehingga bisa kita jadikan teladan, bisa kita amalkan untuk diri kita sendiri.

Salah satu, wanita muslimah terbaik sepanjang sejarah adalah Ibunda Aisyah ra. Ibunda 'Aisyah ra adalah salah satu istri Rasulullah Saw. Tidak hanya istri di dunia, tetapi Ibunda 'Aisyah ra adalah istri Nabi di Dunia dan di Akhirat.

Disebutkan dalam Mustadrak Al Hakim dari ‘Abdurrahman ibnu Ka’ab ibnu Malik dari 'Aisyah, ia berkata :

“Aku pernah bertanya kepada Rasulullah Saw, ‘Siapa saja istri-istri Anda di surga?’ Beliau menjawab; ‘Yang jelas, kamu termasuk di antara mereka.” ‘Aisyah berkata: ‘Terbayang olehku bahwa hal itu beliau katakan karena beliau tidak menikah dengan gadis, kecuali denganku.”
Ibunda 'Aisyah adalah ikon keteleadan yang begitu agung dan luhur. Lalu sifat utama apa saja yang sampai-sampai menjadikan Rasulullah mengatakan bahwa Ibunda 'Aisyah istrinya di dunia dan di akhirat. 

Buku 'Aisyah Kekasih Nabi Dunia Akhirat
Buku 'Aisyah Kekasih Nabi Dunia Akhirat

Dalam buku ‘Aisyah Kekasih Nabi Dunia dan Akhirat karya Ahmad Salim Baduwilan, dituliskan banyak sekali keutamaan Ibunda ‘Aisyah. Kali ini kita kupas 4 sifat utama beliau ya, Dear. Yuk kita pelajari bersama-sama, Dear.

Hidup Zuhud

Zuhud adalah menjauhkan diri dari gemerlap dunia atau sikap tidak terlalu sibuk dengan kehidupan duniawi. Sibuk yang dimaksud disini adalah sibuk yang tidak berkesudahan, hingga melupakan hak diri bahkan melalaikan kewajiban ibadah wajib seperti salat.

Hal ini dijelaskan pada sebuah hadist. Diriwayatkan bahwasannya Mu’awiyah ra mengirimkan baju-baju lembut kepada ‘Aisyah sebagai hadiah, tetapi ia menerimanya sambil menangis dan berkata: Ini belum pernah terjadi pada masa Rasulullah Saw. Ia pun kemudian menyedekahkannya.

Juga pernah ‘Aisyah diberikan hadiah intan permata, tetapi ibunda ‘Aisyah justru berdoa agar hadiah intan tersebut tidak sampai menjadi miliknya hingga tahun depan.

Baru juga satu sifat, Dear, sudah membuatku tertampar, loh. Coba bayangkan, wanita mana yang tidak suka diberi hadiah pakaian lembut (baju bagus) apalagi intan permata. Semua wanita pasti menyuakainya, sangat sangat menyukai. Bahkan aku pun kalau dikasih nggak akan nolak!!

Tapi, berbeda dengan Ibunda ‘Aisyah, saking beliau zuhud pada dunia, beliau justru menyedekahkan pakaian lembut tersebut. Sungguh ini menjadi pelajaran berharga untuk para wanita muslimah untuk berusaha tidak mudah terbujuk pada gemerlap dunia.

Bahkan ada suatu riwayat, dalam kehidupan rumah tangganya bersama Rasulullah Saw, pernah menu makanan di rumah hanyalah kurma dan air putih.

Suka Berinfak di Jalan Allah

Selain mempunyai sifat Zuhud, satu paket sifat lainnya adalah Ibunda ‘Aisyah suka berinfak di jalan Allah. Dalam hal ini, Bunda ‘Aisyah ra telah menunjukkan contoh-contoh keteladana yang sangat menawan. Ia sering diberi hadiah dan uang yang cukup banyak, tetapi ia selalu menginfakkannya tanpa sisa.

Ada sebuah riwayat yang menjelaskan tentang hal ini. Diriwayatkan dari ‘Urwah ibn Zubair, ia berkata: “Aku pernah melihat ‘Aisyah ra membagi-bagikan uang tujuh puluh ribu (dinar/ dirham), sementara pakaiannnya sudah banyak tambalannya.”
Riwayat Ibunda 'Aisyah Infaq 70.000 dinar
Riwayat Ibunda 'Aisyah Infaq 70.000 dinar
Untuk melengkapi ke-kepo-anku, Dear, aku melakukan hitung konversi dirham ke rupiah (1 dirham = Rp 4,291.81). Jadi 70.000 dirham dalam rupiah itu ternyata ohh ternyataaa itu setara dengan Rp 300.426.954,24. Tiga ratuss jutaaa pembaca!!! Sekali lagi 300 juta… Itu disedekahkan, dibagi-bagikan secara cuma-cuma. Ditambah pakaian Ibunda ‘Aisyah hanya sederhana. Kok bisaa ada orang kaya se-zuhud itu. Mungkin biasa ya kita lihat orang sedekah dengan pakaian yang mewah, tapi Ibunda ‘Aisyah pakaiannya lohh banyak tambalannya.
Konversi Dirham ke Rupiah
Konversi Dirham ke Rupiah

 MasyaAllah untuk hal ini, aku no comment, Dear. Aku aja atau kita yaa, mau sedekah tuh mikir-mikir dulu kan, kalau bisa ambil nominal yang paling kecil dalam dompet. Atau kalai sedekah lewat banking, pilih minimal transfer kan. Semoga rejeki kita diluaskan oleh Allah yaa, Dear, jadi bisa perbanyak sedekah.

Jadi, kalau menurut Ibunda ‘Aisyah, adanya perintah infaq itu wajib. Sama halnya dengan perintah solat. Sama-sama wajib. Sehingga infaq di jalan Allah itu wajib maka beliau melalukannya.

Ahli Ibadah dan Ketaatan

Ibunda ‘Aisyah merupakan wanita yang suka beribadah dan senantiasa dalam ketaatan karena beliau hidup di rumah kenabian dan terbiasa melihat Rasulullah Saw bangun malam menjalankan qiyamulllail. Ia berkata kepada ‘Abdullah ibnu Qais, dan ini merupakan salah satu wasiatnya:

“Jangan tinggalkan qiyamullail, sebab sungguh Rasulullah Saw tidak pernah meinggalkannya. Jika beliau sedang sakit atau malas, beliau mengerjakannya sambil duduk.”

Diriwatkan juga oleh Imam Ahmad dari Hadits ‘Abdullah ibnu Abi Musa, ia berkata, “Mudrik pernah mengutus sesuatu kepadanya, lalu aku datang ke rumahnya dan ternyata ia tengah mengerjakan salat. Aku pun lalu duduk menunggu ia selesai dari salatnya. Namun, masyaa Allah ternyata ia tidak selesai-selesai.”

Dari dua riwayat hadits di atas, kita bisa ambil hikmah, Dear. Bahwa Ibunda ‘Aisyah sangat memperhatikan kegiatan ibadahnya, terutama salat. Beliau selalu berdiri untuk solat lail (salat malam) dan ketika siang hari pun ia juga mengerjakan solat dengan khusyuk. Semoga kita bisa meneladani keshalihahan beliau ya, Dear.

Aktif Berpartisipasi dalam Jihad

Dalam hal ini menunjukkan bahwa wanita muslimah juag memegang peran signifikan dalam sejumlah aspek jihad. Disebutkan bahwasannya pada waktu perang Uhud, ‘Aisyah Saw bersama beberapa istri kaum muslimin bertindak menjadi tenaga medis yang menolong tentara- yang sakit, mengobati yang luka-luka dan memberi minum pasukan.

Anas bercerita:

“Aku lihat ‘Aisyah ra dan Ummu Sulaim menyingsingkan kainnya dan tanpa sengaja aku melihat cincin yang melingkar di kaki keduanya. Mereka memanggul kantung minuman di atas pundak mereka, kemudian menuangkannya ke mulut prajurit kaum muslimin yang luka-luka, kemudia balik mengisinya hingga penuh, lalu menuangkannya lagi ke mulut mereka.”

Dari riwayat di atas, sungguh besar keikutsertaan Ibunda ‘Aisyah dalam jihad. Apalagi jihad yang dilakukan Ibunda ‘Aisyah adalah jihad perang, Dear. Resikonya sangat besar apalagi untuk wanita.

Untuk hal ini, kita bisa meneladani Ibunda ‘Aisyah, bahwa wanita juga bisa ikut serta dalam medan jihad. Jihad yang dimaksud tidak harus dalam medan perang. Medan perang kita saat ini sangat luas. Medan perang dan jihad kita bisa berupa tempat bekerja kita, beragam profesi atau pekerjaan, proses belajar kita, proses kita menuntut ilmu, kegiatan kerelawanan dan sosial, dan kegiatan-kegiatan lainnya yang kita niatkan untuk ibadah dan jihad di jalan Allah Swt.

Sifat Teladan Ibunda 'Aisyah ra
Sifat Teladan Ibunda 'Aisyah ra
Itu tadi, Dear, 4 sifat utama Ibunda ‘Aisyah dalam buku ‘Aisyah Kekasih Nabi Dunia dan Akhirat karya Ahmad Salim Baduwilan yang bisa kita teladani bersama.

Kita saling mendo’akan agar perjalanan kita berproses menjadi wanita sholihah selalu mendapat petunjuk, kemudahan dan ridho dari Allah Swt.

Sampai bertemu di serial Shahabiyah selanjutnya.

Teman Perjalananmu,

Alfiana 😊

2 komentar

  1. Masya Allah.. sifat mulianya menjadi teladan utk para muslimah sepanjang zaman

    BalasHapus